TRADISI NUSANTARA
Weton adalah sistem penanggalan tradisional Jawa yang menggabungkan siklus 7 hari (Minggu–Sabtu, seperti kalender Masehi) dengan siklus 5 hari pasaran Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Karena dua siklus ini berjalan bersamaan, kombinasi hari + pasaran akan berulang setiap 35 hari — kombinasi inilah yang disebut weton seseorang, dihitung dari hari kelahirannya.
Setiap hari dan setiap pasaran punya nilai angka tersendiri yang disebut neptu. Sebagai contoh, umumnya neptu hari berkisar 3–9 (Minggu=5, Senin=4, Selasa=3, Rabu=7, Kamis=8, Jumat=6, Sabtu=9) dan neptu pasaran berkisar 4–9 (Legi=5, Pahing=9, Pon=7, Wage=4, Kliwon=8). Neptu weton seseorang dihitung dari neptu hari + neptu pasaran kelahirannya, dan angka total ini dipakai untuk berbagai keperluan tradisional — mulai dari menentukan watak, hari baik, hingga kecocokan pernikahan.
Salah satu penggunaan weton yang paling dikenal luas adalah menghitung kecocokan calon pasangan dengan menjumlahkan neptu keduanya, lalu memetakannya ke salah satu dari delapan kategori tradisional (dikenal sebagai perhitungan Petung Jawa): Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, dan Pesthi — masing-masing dengan makna tradisional berbeda soal potensi tantangan atau keharmonisan rumah tangga.
Kalender Tionghoa dan weton Jawa berasal dari akar budaya berbeda, tapi punya fungsi sosial yang serupa: keduanya dipakai turun-temurun untuk membantu keluarga menentukan hari baik, terutama untuk pernikahan. Di banyak keluarga Tionghoa-Indonesia — khususnya yang sudah beberapa generasi menetap di Jawa — kedua tradisi ini sering dipertimbangkan bersamaan, bukan saling menggantikan. Karena itu, situs ini menghadirkan Weton sebagai pelengkap konteks Nusantara, berdampingan dengan Huangli, bukan sebagai bagian dari sistem Tionghoa itu sendiri.
Sama seperti Huangli dan shio, weton dan neptu di situs ini disajikan sebagai warisan budaya Nusantara, bukan ramalan ilmiah atau jaminan hasil pernikahan/hubungan.
Weton adalah sistem penanggalan tradisional Jawa yang menggabungkan siklus tujuh hari dengan lima pasaran Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi hari dan pasaran berulang setiap 35 hari dan digunakan untuk menyebut weton seseorang berdasarkan hari kelahirannya.
Neptu adalah nilai angka yang diberikan pada hari dan pasaran Jawa. Neptu weton dihitung dengan menjumlahkan nilai hari dan nilai pasarannya, lalu secara tradisional digunakan untuk berbagai keperluan seperti membaca watak, memilih hari baik, atau menghitung kecocokan pernikahan.
Salah satu cara tradisional yang dijelaskan di halaman ini adalah menjumlahkan neptu kedua calon pasangan, kemudian memetakannya ke kategori Petung Jawa seperti Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, atau Pesthi, masing-masing dengan makna tradisionalnya.
Weton dan kalender Tionghoa berasal dari akar budaya yang berbeda, tetapi keduanya memiliki fungsi sosial yang mirip dalam sebagian tradisi keluarga, terutama saat mempertimbangkan hari baik. Karena itu, situs ini menampilkan Weton sebagai pelengkap konteks Nusantara, bukan sebagai bagian dari sistem Tionghoa.
Tidak. Weton dan neptu di situs ini disajikan sebagai warisan budaya Nusantara. Hasil perhitungan atau kategori tradisionalnya bukan ramalan ilmiah dan tidak diposisikan sebagai jaminan atas hasil pernikahan, hubungan, atau keputusan penting lainnya.