Weton berasal dari tradisi penanggalan Jawa, bukan dari Huangli Tionghoa. Sistemnya menggabungkan tujuh hari dalam sepekan dengan lima pasaran—Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon—sehingga membentuk siklus 35 hari. Setiap hari dan pasaran memiliki nilai neptu yang kemudian dipakai dalam berbagai tradisi Jawa.
Fitur Weton ditempatkan di Kalender Tionghoa sebagai konteks budaya Nusantara karena dalam sebagian keluarga di Indonesia, tradisi Tionghoa dan Jawa dipertimbangkan berdampingan. Kami sengaja memisahkan label dan penjelasannya agar Weton tidak dianggap sebagai bagian dari sistem Huangli.